banner 728x250

Sri Rejeki Menekankan Suara Pekerja Harus Menjadi Bagian Penting dalam Kebijakan dan Masa Depan Industri Farmasi Global

JEPANG MEDIA VIKINEWS – 26 Oktober 2026 — Pertemuan Industriall Global Union Pharmaceuticals Sector Meeting di Jepang menghasilkan sejumlah kesimpulan penting mengenai penguatan peran serikat pekerja dalam menghadapi tantangan industri farmasi global. Pembahasan menekankan pentingnya akses masyarakat terhadap obat-obatan, keterlibatan pekerja dalam kebijakan publik, solidaritas internasional, serta dialog yang bermakna antara serikat pekerja dan manajemen perusahaan global.

Sri Rejeki, Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Buruh Kimia, Industri Umum, Farmasi dan Kesehatan Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (FSB KIKES KSBSI), menyampaikan bahwa industri farmasi merupakan sektor strategis yang tidak hanya berkaitan dengan kesehatan masyarakat, tetapi juga menyangkut keberlangsungan pekerjaan, kesejahteraan pekerja, dan keadilan dalam dunia kerja.

“Industri farmasi memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Karena itu, pengembangan industri ini harus mampu menyeimbangkan perlindungan investasi dan hak kekayaan intelektual dengan kebutuhan masyarakat untuk memperoleh akses terhadap obat-obatan yang aman dan terjangkau. Pada saat yang sama, kita tidak boleh melupakan hak-hak pekerja yang menjadi bagian penting dari keberlangsungan industri ini,” ujar Sri Rejeki.

Menurut Sri Rejeki, salah satu poin penting dari pertemuan tersebut adalah perlunya memperkuat suara pekerja dalam proses pengambilan kebijakan publik, termasuk kebijakan industri farmasi dan penetapan harga obat. Serikat pekerja perlu dilibatkan dalam dialog dengan pemerintah agar kebijakan yang dihasilkan turut mempertimbangkan dampaknya terhadap pekerja, lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat.

Solidaritas Global untuk Melindungi Pekerjaan dan Hak Pekerja

Sri Rejeki menegaskan bahwa tantangan industri farmasi tidak dapat dihadapi oleh serikat pekerja secara sendiri-sendiri. Perubahan teknologi, restrukturisasi perusahaan, persaingan global, dan perubahan strategi bisnis perusahaan multinasional membutuhkan kerja sama yang kuat di antara serikat pekerja lintas negara.

“Solidaritas global adalah kekuatan kita. Ketika perusahaan beroperasi lintas negara, serikat pekerja juga harus membangun jaringan dan kerja sama internasional. Kita perlu saling berbagi informasi, memperkuat posisi dalam perundingan, dan memastikan bahwa pekerja di setiap negara mendapatkan perlindungan serta kondisi kerja yang layak,” tegasnya.

Ia menambahkan, jaringan serikat pekerja sektor farmasi di bawah Industriall Global Union perlu terus mengembangkan kerja sama strategis untuk memperjuangkan kepastian kerja, upah dan kesejahteraan, keselamatan dan kesehatan kerja, serta perlindungan hak-hak pekerja di tengah perubahan industri.

Mendorong Kemitraan dengan Perusahaan Global

Kesimpulan pertemuan juga menyoroti pentingnya membangun kerangka kerja yang memungkinkan suara pekerja tersampaikan secara langsung kepada manajemen perusahaan global. Dialog sosial tidak seharusnya berhenti pada tingkat perusahaan atau negara, tetapi perlu diperkuat melalui mekanisme komunikasi dan konsultasi di tingkat internasional.

Dalam konteks perusahaan multinasional seperti Sanofi, Takeda, dan GSK, pertemuan menekankan pentingnya penghormatan terhadap suara pekerja, termasuk hak serikat pekerja untuk menyampaikan pertanyaan, aspirasi, dan kekhawatiran terkait kebijakan perusahaan.

“Perusahaan global perlu melihat serikat pekerja sebagai mitra dialog yang strategis. Pekerja bukan sekadar pelaksana keputusan manajemen, melainkan pihak yang memiliki pengalaman, pengetahuan, dan kepentingan langsung terhadap keberlangsungan perusahaan. Oleh karena itu, komunikasi yang terbuka dan dialog yang nyata harus menjadi bagian dari tata kelola perusahaan,” kata Sri Rejeki.

Pekerja Harus Dilibatkan Sebelum Keputusan Diambil

Sri Rejeki juga menekankan pentingnya prinsip ‘Suara Sebelum Keputusan’, yaitu pekerja dan serikat pekerja harus memperoleh informasi serta kesempatan untuk berkonsultasi sebelum perusahaan mengambil keputusan besar terkait penerapan teknologi baru, restrukturisasi, maupun perubahan organisasi yang dapat berdampak terhadap pekerjaan.

Menurutnya, keterlibatan pekerja sejak awal dapat membantu mengidentifikasi risiko, mengurangi konflik industrial, dan membuka peluang untuk mencari solusi yang adil bagi perusahaan maupun pekerja. “Jangan sampai pekerja baru mengetahui perubahan ketika keputusan sudah ditetapkan dan dampaknya sudah harus mereka tanggung. Informasi yang tepat waktu, konsultasi yang bermakna, dan keterlibatan serikat pekerja sejak awal sangat penting agar setiap perubahan dapat dikelola secara adil, transparan, dan bertanggung jawab,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa transformasi industri harus disertai langkah-langkah perlindungan terhadap pekerja, termasuk peningkatan keterampilan, pelatihan untuk menghadapi perubahan teknologi, serta kepastian mengenai masa depan pekerjaan.

Memperkuat Perjuangan Pekerja Farmasi di Indonesia

Bagi FSB KIKES KSBSI, kesimpulan pertemuan ini menjadi pengingat bahwa penguatan kapasitas serikat pekerja, perluasan jaringan internasional, dan peningkatan kualitas dialog sosial merupakan agenda penting yang perlu diterapkan di tingkat nasional maupun perusahaan.

Sri Rejeki berharap hasil pertemuan dapat menjadi landasan untuk memperkuat komunikasi dan kerja sama antara serikat pekerja, manajemen perusahaan, dan pemerintah, termasuk dalam menghadapi perubahan kebijakan serta perkembangan teknologi di sektor farmasi.

“Bagi kami di Indonesia, hasil pertemuan ini relevan untuk memperkuat perjuangan serikat pekerja di sektor farmasi. Kita perlu memastikan bahwa pekerja perempuan dan kelompok pekerja yang selama ini kurang terwakili juga mendapatkan kesempatan yang setara untuk menyampaikan aspirasi, memperoleh akses terhadap pelatihan, menduduki posisi kepemimpinan, dan mendapatkan perlindungan dari diskriminasi di tempat kerja,” tambahnya.

Ia menutup dengan menegaskan bahwa keberhasilan industri farmasi tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, inovasi, atau keuntungan perusahaan, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan pekerjaan yang layak, menghormati hak pekerja, serta memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

“Masa depan industri farmasi harus dibangun melalui keseimbangan antara inovasi, akses terhadap obat, keberlanjutan usaha, dan keadilan bagi pekerja. Suara pekerja harus didengar sebelum keputusan dibuat, dan solidaritas global harus menjadi kekuatan untuk memastikan tidak ada pekerja yang tertinggal dalam perubahan industri,” tutup Sri Rejeki.

Penulis: SantangEditor: Santang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *