banner 728x250

Sri Rejeki Soroti Isu Perempuan di Industri Farmasi dalam Pertemuan Serikat Pekerja Internasional di Jepang

JEPANG NASIONAL, MEDIA VIKINEWS – Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Buruh Kesehatan dan Industri Kimia (FSB KIKES) KSBSI, Sri Rejeki, menyoroti pentingnya perlindungan hak-hak pekerja perempuan dalam industri farmasi pada pertemuan IndustriALL Global Union Pharmaceutical Sector Network Trade Union Meeting yang berlangsung di Jepang pada 26 Oktober 2026.

Pertemuan tersebut menjadi wadah bagi jaringan serikat pekerja dari berbagai negara untuk bertukar pandangan mengenai kondisi ketenagakerjaan, memperkuat perjuangan hak-hak pekerja perempuan, serta mendorong terciptanya lingkungan kerja yang adil, aman, dan inklusif.

Dalam forum tersebut, Sri Rejeki menegaskan bahwa isu perempuan harus menjadi bagian utama dari agenda perjuangan serikat pekerja, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Menurutnya, perempuan memiliki peran strategis dalam rantai produksi dan perkembangan industri farmasi. Oleh karena itu, kontribusi pekerja perempuan harus diimbangi dengan kesempatan kerja yang setara, perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja, akses pengembangan karier, serta keterlibatan dalam pengambilan keputusan.

“Pekerja perempuan bukan hanya bagian dari tenaga kerja industri farmasi, tetapi juga memiliki peran strategis dalam keberlanjutan industri. Karena itu, kita harus memastikan bahwa mereka mendapatkan hak, kesempatan, perlindungan, dan penghargaan yang setara,” ujar Sri Rejeki.

Sri Rejeki Identifikasi Tantangan Pekerja Perempuan

Sri Rejeki menjelaskan, masih terdapat sejumlah persoalan yang perlu menjadi perhatian bersama, mulai dari kesenjangan kesempatan menduduki posisi kepemimpinan, keterbatasan akses pelatihan dan peningkatan keterampilan, hingga tantangan dalam menyeimbangkan tanggung jawab pekerjaan dengan kehidupan keluarga.

Selain itu, perlindungan terhadap diskriminasi, pelecehan seksual, kekerasan di tempat kerja, serta risiko kesehatan dan keselamatan kerja juga menjadi aspek penting dalam mewujudkan lingkungan kerja yang layak bagi perempuan.

Ia menilai, penyelesaian persoalan tersebut tidak cukup hanya melalui kebijakan formal perusahaan. Diperlukan implementasi nyata, mekanisme pengaduan yang aman, serta keterlibatan aktif serikat pekerja dalam mengawasi pemenuhan hak-hak pekerja.

“Perusahaan perlu memastikan bahwa kebijakan kesetaraan tidak berhenti pada dokumen. Harus ada tindakan nyata, mulai dari kesempatan promosi yang adil, perlindungan dari segala bentuk kekerasan dan pelecehan, hingga tersedianya mekanisme pengaduan yang dapat diakses pekerja tanpa rasa takut,” tegasnya.

Perkuat Perjuangan Melalui Perjanjian Kerja Bersama

Lebih lanjut, Sri Rejeki menekankan pentingnya peran serikat pekerja dalam memperjuangkan kesetaraan gender melalui dialog sosial dan perundingan bersama dengan perusahaan.

Menurutnya, berbagai persoalan yang dihadapi pekerja perempuan perlu dimasukkan dalam Perjanjian Kerja Bersama (PKB), termasuk perlindungan maternitas, kesempatan pengembangan karier, pencegahan diskriminasi dan pelecehan, serta pengaturan kerja yang mendukung keseimbangan kehidupan kerja dan keluarga.

Ia juga mendorong peningkatan keterwakilan perempuan dalam struktur organisasi serikat pekerja agar kebutuhan dan pengalaman mereka dapat disampaikan secara langsung dalam proses pengambilan keputusan.

“Perundingan yang kuat harus mampu menghasilkan perubahan nyata bagi pekerja perempuan. Serikat pekerja perlu memastikan bahwa isu kesetaraan gender masuk dalam agenda perundingan, bukan sekadar menjadi pembahasan tambahan. Kita harus membangun kepemimpinan perempuan dan memperkuat kapasitas mereka agar dapat terlibat aktif dalam perjuangan hak-hak pekerja,” tambahnya.

Bangun Solidaritas Pekerja Perempuan di Tingkat Global

 

Pertemuan IndustriALL Global Union Pharmaceutical Sector Network Trade Union Meeting juga menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas dan kerja sama lintas negara dalam menghadapi berbagai tantangan di sektor farmasi.

Pertukaran pengalaman antarserikat pekerja diharapkan dapat memperluas wawasan, mengidentifikasi praktik-praktik yang efektif, serta memperkuat strategi advokasi dan perundingan untuk meningkatkan standar ketenagakerjaan.

Bagi FSB KIKES KSBSI, keikutsertaan dalam jaringan internasional menjadi kesempatan untuk menyuarakan perspektif pekerja Indonesia dalam pembahasan isu ketenagakerjaan global sekaligus mempelajari strategi yang dapat diterapkan di tingkat nasional maupun perusahaan.

Sri Rejeki berharap jaringan serikat pekerja sektor farmasi dapat terus mengembangkan agenda bersama yang berorientasi pada peningkatan posisi tawar pekerja perempuan, penguatan keterwakilan perempuan dalam kepemimpinan serikat, serta terciptanya hubungan industrial yang menghormati hak asasi manusia dan prinsip kesetaraan.

“Solidaritas antarserikat pekerja di berbagai negara sangat penting. Tantangan yang dihadapi pekerja perempuan mungkin berbeda di setiap negara, tetapi perjuangan untuk memperoleh pekerjaan yang layak, perlakuan yang adil, dan perlindungan yang bermartabat merupakan tujuan bersama,” tutupnya.

Melalui partisipasi dalam pertemuan tersebut, FSB KIKES KSBSI menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan hak-hak pekerja perempuan, memperkuat kepemimpinan perempuan dalam organisasi serikat pekerja, serta mendorong terwujudnya industri farmasi yang lebih adil, aman, setara, dan berkelanjutan.

 

Sumber Ketua KIKES DKI Jakarta

Penulis: SantangEditor: Santang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *